Arsip untukkumpulan cerpenku

De’ kakak cinta adek

Kring…..Kring….
Terdengar nyaring suara Bel pada sore hari itu. Sore itu aku membantu guru bahasa inggrisku untuk membagi pengalamanku selama berada Di Oxford. Aku sendiri duduk Di kelas XII Ipa I. Dan aku sekolah di The alono sejak kelas XI Kemaren.
Dan ini kisah aku bertemu dengan seorang yang sangat begitu berharga untukku tapi aku gagal menyadarinya.
“ Kenapa Dia….!!!” Tanyaku dalam hati ketika melihat salah seorang adek kelasku terduduk lesu di bangku pojok. Tampak Guratan kesedihan yang sebenarnya ingin tertuang dalam tangis tapi tersudut malu menentang sepi.

… continue reading this entry.

KISAH AKU

Coba lihat langit diatas sana, begitu indahnya dan betapa cepat arak-arakannya melaju ke sebelah barat bumi. Ada awan yang berbentuk gajah, anak yang tertawa bahkan bentuk sebuah benua, Betapa hebatnya cipataanmu.

“ wahai makluk yang ada di sebelah barat bumi, apakah kalian juga melihat hal yang sama denganku??!! Samakah apa yang kulihat ini?? Tanyaku sembari didalam hati sembari duduk diatas rumput dan mencorat-coret buku gambarku.

“ betapa cepat bumi ini berputar, 24 jam yang lalu dan 24 jam lagi, matahari kletemu bintang mulu dalam sehariu, sebulan, setahun bahkan seabad dan awan selalu berbentuk seakan itu kewajiban para manusia saja untuk mengaguminya… sedang aku sendiri bentar lagi umur 17 tahun. Hari demi hari kulalui dengan kejenuhan yang sangat menyebalkan, mengejar hidupku dan aku tak peduliu disini tengah terengah-engah dikejar harapan dan dikebut usia, bisakah aku berhenti sejenak dan mengambil nafas tanpa mati….”

Lalu datangalah seseorang yang langsung memukulku dengan syal yang tadinya dia pakai.

“ hei apa maksudmu” tanyaku sambil terbangun.

Orang itu tak menjawab pertanyaanku tapi malah duduk disampingku dan mengataiku.

“ kau orang bodoh yang hanya bias kagum dengan ciptaanya…. Kau tak pernah berpikir kenapa dia menciptakan itu….”

Aku hanya mendengarkannya dan memandang kesekeliling dan dia mengerti apa yang hendak aku katakana padanya.

“ teman jiwa… aku teman jiwamu yang terlupakan… saying kau tak mengenalku… padahal kita telah banyak berkata…” aku hanya terdiam dan berpikir dalam otakku yang ibarat kompoter gak pernah di install ulang.

“ Perjalanan kita selama ini adalah bagian dari sebuah hidup kita… terserah dengan apa yang kau lakukan…”

Gila aku tak sanggup berkata apa-apa seakan bibirku ini terkunci untuknya dan apa yang aku pertanyakan dia sudah menjawabnya terlebih dahulu dan aku sendiri seperti orang yang lupa dengan apa inginku dan apa yang sudah kuperbuat ketika aku hidup… berapa orang yang sudah kusakiti.

Betapa sulit dunia memberikan cobaan pada setiap setiap kehidupan, bukan hanya permaslahan mencari sesuap nasi tapi aku disini nanti untuk menghidupi keluargaku. Namun juga seorang teman, betapapun hanya untuk berbicara dan untuk melontarkan pertanyaan.

“ apa kau baik-baik saja teman….”

Dan aku disini hanyalah seorang manusia yang hanya sujud padamu ketika aku mendapat cobaan Tuhan lalu aku terbangun dari tidurku dan aku terheran dimana teman jiwaku tadi dan aku hanya diam dan berusaha menenangkan diri. Betapa jahatnya kesepian ini. :=(